Jumat, 19 Agustus 2011

MANUSIA ‘AJULA

MANUSIA ‘AJULA

وَيَدْعُ الإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَائَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنْسَانُ عَجُولاً (الاسرأء :11)
“Dan manusia mendo`a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo`a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa – ‘ajula - ” (Q.S : 17 : 11).
Ayat diatas menjelaskan bahwa salah satu sifat manusia adalah tergesa-gesa (ajula), semuanya ingin cepat mendapat meskipun hanya sedikit, daripada mendapat banyak tapi tertunda. Dalam hal dia mengharap kebaikan ingin secepatnya diterima walaupun nilai kebaikan yang diterimanya itu lebih rendah dibndingkan apabila dia menunggu beberapa saat. Demikian pula dalam hal menghindar dari bencana atau marabahaya, manusia selalu ingin agar secepatnya terlepas dari bahaya itu, walaupun bahaya tersebut jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan bahaya yang akan menimpanya di waktu mendatang. Anehnya manusia banyak yang memilih terhindar dari bahaya yang sedikit di dunia ini, tetapi tidak takut dengan bahaya yang lebih besar nanti di akhirat. Begitu juga lebih memilih kebahgiaan yang sementara di dunia ini ketimbang kebahagiaan yang kekal nanti diakhirat.
Sifat ajula adalah sifat yang selalu bersarang pada pikiran manusia, yakni sifat ingin cepat mendapat kebaikan dan ingin cepat terhindar dari keburukan atau kesengsaraan. Sifat ini seolah biasa dan umum kita rasakan, namun terkadang manusia salah pilih dan salah pandang sehingga mengakibatkan manusia rugi sepanjang masa, dikira beruntung, tapi rupanya buntung, dikira tali pengikat rupanya tali penjerat, dikira kubang rupanya lobang. Untuk itu Allah perintahkan kita agar tidak tenggelam dalam sifat ajula tersebut, sebab sifat itu salah satu bentuk ujian bagi manusia dalam menempuh perjalanan hidup di alam fana sekarang ini. Karenanya sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak ada gunanya. Bila diperhatikan lebih jauh apa yang disinyalir Allah pada ayat tersebut diatas, paling tidak ada dua hal mendasar untuk kita renungkan yaitu;

1. Bersabar dalam menerima sesuatu.
Manusia hidup atas dasar tiada daya dan upaya kecuali sesuatu yang diberikan Allah (lahaula wala quata illa billah). Tiada kesenangan kecuali dari-Nya, tiada kesusahan kecuali dari-Nya pula, dan tiada ketaatan kecuali petunjuk (hidayah) dari- Nya juga. Oleh karena itu kesabaran sangat dibutuhkan dalam menerima dan melaksanakan semuanya itu. Nabi SAW menyatakan bahwa kesabaran itu harus ada pada tiga tempat, yaitu sabar menghadapi musibah, sabar menjalankan taat, dan sabar dalam menghindari maksiat”. (Usman bin Hasan; Duirratu al-Nashihin : 193).
Dengan kesabaran, orang kaya tidak akan lupa diri, orang miskin tidak akan berputus asa, tidak terlalu bergembira bila beroleh rahmat, dan tidak terlalu sedih bila ditimpa musiabah. Sebab “mungkin yang kamu anggap buruk itu akan baik bagi kamu, dan mungkin pula yang kamu anggap baik itu akan buruk bagi kamu” (Q.S : 2 : 216).
Tanpa kesabaran sering kali orang miskin mengeluh dengan kemiskinannya, orang susah mengeluh dengan kesusahannya, dia berupaya dan berusaha untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan dan kesusahannya itu dengan berbagai cara mungkin mencuri, merampok dan lain sebagainya. Muncullah dalam pemikirannya “orang kafir kok kaya-kaya, tapi orang yang taat malah jadi miskin” akhirnya dia tinggalkan ketaatan dan dia laksanakan pendurhakaan terhadap Allah SWT. Pemikirannya bukan lagi pada keimanan dan ketaqwaan, tetapi berpindah kepada materi duniawi yang menggiurkan. Kemuliaan tidak lagi berlandaskan agama, tetapi hawa nafsu yang durjana. Pola pikirnya bukan lagi keikhlasan dengan mengharap ridha Allah tetapi materi yang melimpah ruah, dia lakukan berbagai cara untuk mendapatkan materi tanpa mengenal batas-nbatas agama lagi. Orang yang berfikiran semacam itu sebenarnya telah diperingatkan Allah dengan firman-Nya;
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (الانعم : 44)
Artinya : Ketika mereka melupakan peringatan-peringatan yang telah diberikan kepada mereka kami bukakan semua pintu (kesempatan apa saja yang mereka inginkan) tetapi ketika mereka sedang bergembira ria dengan apa yang telah diberikan kepadanya, kami siksa mereka dengan tiba-tiba lalu mereka terdiam berputus asa. (Q.S : 6 : 44).
Dibukakannya semua pintu; artinya apa saja yang ingin mereka lakukan diberi kesempatan oleh Allah sehingga mereka memperoleh hasil dari apa yang mereka inginkan. Mereka ingin mencuri ada kesempatan, ingin merampok, korupsi, zina, judi, ada saja kesempatan untuk itu sampai mereka berhasil. Tetapi setelah mereka dapat memperoleh hasilnya, Allah akan mengambilnya kembali dengan seketika, mungkin hartanya disita, badan masuk penjara, keluarga kucar kacir, harta habis semuanya. Badan sakit-sakitan, anak nakal tidak karuan, sehingga menghabiskan uang yang selama ini dia kumpulkan. Akhirnya sampailah pada peringatan Allah yang berikutnya;
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا . قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى . وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (طه : 127)
Artinya : Barang siapa yang berpaling dari peringatanku (tidak mengindahkan ajaran Allah) maka kepadanya diberikan penghidupan yang sempit, dan pada hari kiamat nanti kami akan bangkitkan mereka dalam keadaan buta, sembari merintih menyesali nasib. Mereka berkata; Ya Tuhan kami mengapa engkau himpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dulunya (sewaktu di dunia) aku ini termasuk orang yang melihat ?. Ketika itu Allah berfirman; rasailah ! dulu ayat kami telah datang kepadamu tetapi kamu berpura-pura tidak tau (melupakannya), maka pada hari ini kamupun dilupakan. Demikianlah kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuahannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (Q.S : 20 : 124 – 127).

2. Jangan sampai salah pilih
Di alam dunia ini manusia dihadapkan pada dua potret kehidupan yang serupa tapi tak sama, ada kehidupan dunia, tetapi ada pula kehidupan akhirat, ada kebahagiaan dunia ada pula kebahagiaan akhirat, ada kesengsaraan dunia tapi adapula kesengsaraan akhirat, demikianlah seterusnya. Dalam memandang kedua potret itu manusia selalu di ingatkan Allah agar jangan samapai salah pilih “akhirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia ini” (Q.S : 93 : 4). Ayat tersebut mengingatkan kita agar selalu memprioritaskan ukhrawi ketimbang duniawi, namun bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali tapi “pergunakanlah apa yang diberikan Allah kepadamu untuk mencapai tujuan akhirat, dan jangan lupa bagianmu dari dunia ini” (Q. S : 28 : 77).
Telah sangat banyak yang diberikan Allah kepada kita seperti kesehatan, harta, pangkat, jabatan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Pergunakanlah kesemuanya itu untuk mencapai kebahagiaan akhirat, namun kebahagiaanmu di dunia inijangan pula kamu lupakan. Tetapi harus diingat bahwa dunia ini akan fana, tidak kekal. Kebahagiaan disini hanyalah kebahagiaan semu dan bersifat sementara, karenanya jangan sampai terlena dengan kebahagiaan yang sedikit dan semu itu, sementara kamu lupakan kebahagiaan yang kekal diakhirat nanti.
Peringatan Allah tersebut sangat urgen untuk kita renungkan, apalagi menghadapi era globalisasi yang diwarnai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dewasa ini, dimana orang selalu berfikir realistis, ekonomis dan materialistis. Segala sesuatu selalu diukur dengan materi, karenanya seringkali menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan materi. Tak ayal menjual agama untuk mendapatkan materi muncullah slogan berusaha sambil berinfaq, seolah-olah ummat ini tidak lagi mau berinfaq kalau tidak ada imbalan materi duniawi, tolong menolong tidak lagi berlandaskan agama, tetapi telah berubah menjadi ajang bisnis, sumbangan dan bantuan harus mengalami sunatan masal, tak pelak lagi bantuan untuk masjid dan korban bencana alam, pada hal kalau saja berinfaq dengan landasan ridha Allah semata “niscaya kamu akan diberi pahala dengan cukup sedangkan kamu sedikitpun tidak akan dirugikan”. (Q. S : 2 : 272)
Kenyataannya manusia condong memilih yang sedikit ketimbang yang banyak, memilih yang semu ketimbang yang kekal, sebab yang sedikit lebih cepat diterima di dunia ini, sedangkan yang kekal nanti di akhirat baru diterimanya. Oleh karena itu banyak manusia yang mengejar keuntungan yang sedikit dengan mengorbankan keuntungan yang banyak. Serbagai contoh kecil saja kita saksikan orang mau berhujan-panas bekerja dari pagi sampai larut malam hanya untuk mencari sesuap nasi, sementara shalat yang akan menyelamatkan hidupnya di dunia dan di akhirat nanti tidak dijalankannya. Pada hal apalah artinya kekayaan dunia dibandingkan dengan kekayaan akhirat yang dijanjikan Allah. Manusia selalu menghindar dari kesengsaraan dunia, sementara dia kejar kesengsaraan akhirat pada hal kesengsaraan akhirat jauh lebih dahsyat dan mengerikan dibandingkan kesengsaraan dunia. Oleh karena itu Allah peringatkan janganlah jadi manusia ‘ajula, yaitu ingin cepat mendapat kebahgiaan dunia dengan mengorbankan kebahgiaan akhirat. Ingin cepat terlepas dari kesengsaraan dunia, tetapi mengejar kesengsaraan akhirat.
Sebagai kesimpulan dari urai tersebut diatas, manusia sebaiknya tidak bersifat tergesa-gesa ( ajula). Tetapi berupaya dan berusaha dengan mengutamakan kepentingan ukhrawi tanpa harus melupakan kepentingan duniawi, sebab kebahagiaan ukhrawi lebih besar dan lebih kekal dibandingkan duniawi. Demikian pula janganlah kesengsaraan dan kesusahan duniawi akan menjauhkan kita dari Allah, sebab kesengsaraan ukhrawi jauh lebih dahsyat dibanding dengan kesengsaraan duniawi.